rio coding, money, and traveling

Berbicara tentang kuliah, kelulusan, pekerjaan, dan uang

Aku disini sudah lulus, setidaknya hampir satu tahun. Apa yang sudah kulalui tentang hidup setelah lulus kuliah? Setelah kelulusan, aku pengangguran selama dua bulan, setelah dua bulan masih tetap pengangguran untuk tiga bulan berikutnya. Lalu ditahun berikutnya tiga bulan awal aku bekerja di salah satu perusahaan perangkat lunak, namun hanya tiga bulan saja berakhir karena suatu hal. Lalu sebulan terakhir aku kembali pengangguran, hingga bulan ini.

Aku selalu berdebat dengannya tentang bagaimana seharusnya aku menghasilkan uang. Ia selalu ingin aku menghasilkan uang yang banyak dan stabil dengan caranya yaitu dengan bekerja jadi babu. Aku melakukan riset pribadi tentang penghasilan orang-orang yang bekerja dan aku menghakimi mereka secara pribadi mereka tidak akan pernah bisa kaya (seperti yang dia minta) dengan hanya bekerja jadi babu / karyawan.

Salah satu cara yang menurutku mungkin adalah dengan membuka usaha / berjualan. Menjadi seorang yang berjualan tentu tidak mudah, aku melakukan hal ini sudah sejak kuliah dengan berjualan jasa pembuatan perangkat lunak, mulai dari harga murah di hitungan ratusan ribu hingga puluhan juta. Aku mengatakan bahwa berjualan jasa ini tidaklah mudah. Kembali lagi, aku membenci orang-orang yang menginginkan uang instan tetapi bersikeras cukup menjadi karyawan. Mayoritas orang-orang di negara ini tidak akan bisa mencapai kekayaan dalam waktu dekat seperti keinginannya jika hanya menjadi karyawan saja.

Salah satu yang diinginkannya yaitu pendapatan tetap yang tidak berkurang tetapi meningkat. Karyawan tentu saja pendapatannya tetap dan seharusnya terus meningkat, hanya saja perusahan itu belum bangkrut saja, ketika perusahaan itu bangkrut pendapatan karyawannya semoga saja masih tetap. Berbeda dengan PNS, negara mungkin sangat sulit bangkrut, tetapi sangat dicurigai jika PNS bisa kaya seperti uang yang dia minta hanya dari gaji PNS saja.

Aku sangat berekspektasi bahwa pendapatan saat memulai sebuah usaha tidak akan tetap, tapi aku yakin dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan pendapatan usaha ini menjadi tetap, dengan visi utama yaitu pendapatan yang bernilai besar sesuai kriterianya. Satu harapan besarku terhadap usaha ini agar mulai stabil menghasilkan keuangan yang tetap seperti yang kuharapkan, dan tentu saja bisa berkembang lebih besar lagi agar penghasilannya lebih besar lagi.

Aku benci jika aku harus disuruh bekerja lagi dengan harapan gaji yang sangat besar. PERCAYALAH… Tidak akan ada yang menerimaku dengan ekspektasi gaji sebesar itu. Diluar sana banyak orang yang sulit mencari kerja dengan ekspektasi gaji yang cukup-cukup saja, biarlah itu jadi kesempatan untuk mereka.

— Disclaimer: Aku sadar ketika aku membaca tulisan ini lima tahun lagi, aku akan menemukan banyak kesalahan-kesalahan pemikiran, biarlah kesalahan itu menjadi pelajaran agar aku lebih baik lagi.

Kompilasi Awal Januari 2019

Ini, sudah sebulan sejak tahun 2019. Waktu memang tidak terasa terus berjalan, dan terasa semakin cepat.

Awal 2019 memang agak menyulitkan bagiku, tapi setidaknya aku melakukan tiga trip selama bulan tersebut, sungguh pencapaian yang baik.

Trip pertama saat masih di Sibolga, seperti biasa tidak lengkap rasanya jika di Sibolga tanpa berkumpul dengan teman-teman SMA. Trip ke pulau Kalimantung, bisa dibilang trip ini jenisnya share cost, atau lebih tepatnya dengan tambahan donatur, hahah. Dengan anggota sekitar belasan orang, prakiraan cuaca yang suka membuat takut, dan jam karetnya orang batak, akhirnya jadi berangkat juga. Di luar dugaan, cuaca ternyata sangat cerah, dan sungguh sangat beruntung untuk bulan Januari.

Trip kedua yaitu ke kepulauan seribu yang paling dekat dengan Jakarta, kalian anak-anak trip Jakarta pasti sudah ga asing dengan trip ini, sudah sangat terkenal yaitu ke tiga pulau Cipir, Kelor, Onrust. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak saat itu, trip yang seharusnya tiga pulau menjadi dua pulau karena cuaca tidak mendukung. Trip ini jenisnya open trip, ini kedua kalinya aku ikut trip ini sama persis. Trip ini berangkat dengan kapal kecil dari muara kamal.

Pada trip ketiga, ini agak berbeda, trip ini terjadi dengan banyak ketidakpastian dan pasrah. Waktu itu iseng buka Couchsurfing aktifkan hangout, tujuan awal untuk cari teman karaoke, tapi ada satu event yang menarik perhatianku, yaitu trip ke pulau Sebaru, jika tiga pulau diatas adalah pulau terdekat ke kota Jakarta, pulau Sebaru adalah salah satu pulau (kedua) terjauh dari kota Jakarta (tepatnya di ujung kepulauan seribu) yang katanya tidak berpenghuni, ternyata ada penghuninya walaupun hanya beberapa orang. Pulau paling ujung katanya adalah pulau Sebira. Mereka yang mengadakan event ini adalah anak-anak pecinta free-diving, sedangkan aku hanya bisa berenang mengambang saja, hahahhh.

Akhirnya dengan keputusan yang terburu-buru, langsung join, bayar DP. Trip ini jenisnya share cost, karena katanya di CS tidak boleh melakukan hal-hal berbau komersial seperti open trip. Sampai di hari-H tidak mudah bagi seorang rio untuk beradaptasi disana, bahkan karena takut terlambat, aku sampai menginap di sekitar daerah taman sari jakarta. Trip ini berangkat dengan anggota 18 orang kalau tidak salah hitung. Berbeda dengan trip sebelumnya, kali ini berangkat dari muara angke dengan kapal yang besar menuju pulau harapan. Dari pulau harapan lanjut lagi dengan kapal kecil menuju tujuan akhir pulau Sebaru. Disana tidak ada penginapan, jadi kami (tepatnya beberapa orang saja) membawa perlengkapan camp seperti tenda, hammock, dan lainnya. Sayangnya aku hanya membawa badan saja. Anyway, pulau Sebaru menurutku sangat bagus, dan bisa kubilang eksotis, masih minim sentuhan manusia, terumbu karang berwarna-warni, pasir putih, air jernih, dan minim polusi cahaya jadi bisa lihat bintang di langit.

Satu lagi yang menarik bagiku adalah ketika pulang dari trip ketiga. Jadi kami semua berpisah, beberapa orang ada yang pulang dengan kendaraan sendiri dan beberapa krl-lovers. Aku salah satu anak-anak krl disitu, akhirnya aku sampai tujuan akhir stasiun cisauk, saat itu jam 10 malam. Baterai hp ku lowbat, aku memutuskan mampir ke charging station dulu, ternyata disana ada satu orang bapak-bapak yang sedang ngecas hp juga, sebagai orang yang hormat kepada orang yang lebih tua, aku permisi dulu ke beliau. Ehh sahutanku malah dibalas muka bingung, aku juga bingung jadinya, sedikit kuperhatikan lagi ternyata dia bukan orang Indonesia, terus coba sok dekat kenalan pake bahasa Inggris pas-pasan, jawabannya kurang memuaskan (mungkin karena bahasa Inggrisku terlalu buruk :(( wkwk ), setelah nanya asal baru tahu kalau dia orang meksiko. Cerita lengkapnya disini…

I meet a mexican on Cisauk train station, i didn't even know if he was a mexican on the first time, i was just guessing he didn't speak english well, even my english also bad hahahahh, but he speak spanish well. He offered me a wine, we drink on the public space on train station, it was about 10pm, we talk so much, he said that he was alone with no friends all the time in Indonesia since he was arrived four years ago, i didn't know what happened to him, but he was so happy to met me and he said that no one wanted to talk with him, everyone he tried to talk the people refused.

After my phone charged enough, we leaved the station together because we had same way. On the way we leaved the station he asked me to stop on a store to buy some beer, the guy on the store said that he often came to the store to buy beer, do you know what happened after? he bought three beer, he drunk a bottle beer (the big one) in a shoot, and then he gag (throw up) liquid from his mouth, i guess it was the wine, he was a crazy man. What happened man? while we were on the store, his phone always ringing, i thought it was his wife, once he answered the call, he talked in spanish, i didn't even understand any word.

Then i asked him to leaved to his home, because he was drunk, i ordered Gojek, i take him to home, at least he still could guide the driver to show the way to his home. It was about 11pm.

I think he was stressed all the time, because he didn't have any friends (i guess ? who knows).

Note: Buat yang bertanya-tanya sok pake bahasa Inggris, jadi aku udh pernah menulis cerita ini utk bio di CS, capek kalo harus tulis ulang lagi ke bahasa Indonesia, copas ae.

Budget Traveler Guide Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru

Bepergian dengan dana minim? Hal ini sering kulakukan. Ini kali kedua aku mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Ketika bepergian dengan pesawat, hal yang sering kutanyakan (mungkin jg sebagian orang) adalah bagaimana cara masuk dan keluar bandara. Beberapa bandara ada yang berjarak sangat jauh dari jalan umum, sehingga menjadi masalah bagiku ketika harus terpaksa menggunakan jasa taksi bandara. Sudah menjadi rahasia umum, taksi bandara tarifnya sangat mahal, belum lagi kalau diakal-akali dengan muter-muter jauh kesana kesini alhasil tarifnya menjadi semakin tidak cocok dengan budget yang kusediakan.

Kali ini aku berada di bandara Sultan Syarif Kasim II,

1. Cara Keluar Bandara

Sepertinya untuk keluar bandara, selama dua kali pengalamanku kesini, tidak ada yang mau jalan kaki keluar. Aku berpikir antara mereka malas jalan karena jauh atau gengsi/malu karena tidak ada yang memulai. Hingga akhirnya tadi aku jalan sendirian seorang diri serasa pemilik trotoar sepanjang jalan keluar.

Peta jalan keluar Bandara Sultan Syarif Kasim II

Dimulai dari lingkaran merah di kiri bawah gambar diatas. Ketika keluar dari penerbangan domestik, aku biasanya sampai dititik itu. Dari tempat itu menyeberang ke arah panah merah (menyeberangi tempat taksi berjejer menunggu penumpang) menuju tempat parkiran. Sesampai di tempat parkiran ikuti terus panah merah tersebut, menuju arah mesjid untuk menghindari jalan aspal yang tidak ada trotoarnya.

Lalu sampai di ujung panah merah, mulai dari jalan tersebut (ujung panah merah) sampai ujung seluruh jalan ditandai area hijau terdapat trotoar, bisa berjalan kaki, jaraknya memang relatif jauh/dekat sekitar satu kilometer tergantung niat. Bagi yang tidak bersedia jalan, sangat tersedia banyak sekali taksi di pintu keluar kedatangan domestik dengan harga yang bervariasi (bervariasi mahal hahahhh).

Sampai diujung trotoar, menyeberang ke alfamart atau indomaret yang ada di lingkarang biru. Memang menyeberang disini cukup sulit karena jalan yang bergitu besar, tapi kembali lagi semua tergantung niat, kalian juga bisa memesan taksi untuk menyeberang jalan jika sangat malas menyeberang.

Sesampainya di alfamart atau indomaret, barulah aku memesan Gojek.

Akhirnya uangku aman dan aku sampai pada tujuan.

2. Cara Masuk Bandara

Pesen Gojek aja, Gojek motor dan mobil bisa masuk ke bandara, yang gabisa tuh mengambil penumpang dari bandara. Tadi mamang Gojek juga cerita kalau taksi Bluebird juga udh gabisa masuk bandara lagi katanya krn join sama Gojek.

3. Kuliner dalam Bandara

Selama ini aku hanya pernah mencoba dua tempat makan/minum di dalam bandara ini, yaitu Thai Tea dan A&W, harganya standar bandara, rootbeer A&W (pake float cream) harganya 22.5rb, thai tea kisaran 20rb. Rasanya ga ada yang murah di dalam bandara ini (relatif ke kantongku), sebaiknya makan dari luar bandara, atau beli makanan dari luar bandara bawa ke dalam, kecuali kalian seorang royal traveler, ya bisalah makan di dalam aja.

Mengapa kuliah? Jawaban pasca kuliah

Masa kuliah bagiku cukup menyenangkan, salah satu alasan terbaik karena kebutuhan hidup aman, ada bulanan, dan tentu saja menyenangkan bermain kesana kesini. Satu posting lamaku yg masih tampil di beranda blog itb sampai saat ini Kuliah itu Belajar Secara Otodidak? Buat Apa Kuliah? (28 Januari 2015). Postingan itu kutulis beberapa minggu setelah pulang dari pendidikan dasar, memang pendidikan dasar sangat memberikanku inspirasi saat itu. Saat itu aku cukup bertanya-tanya tentang metode belajar kuliah yang mayoritas harus belajar sendiri, dan di akhir postingan aku mengatakan jawaban itu akan muncul setelah aku lepas dari kuliah.

Jadi, apakah jawaban itu sudah muncul? Tentu saja sudah. Jawabannya: karena proses belajar tujuan akhirnya untuk memanusiakan manusia.

Proses itu dimulai dengan cara yang paling mudah hingga paling susah. Jika diperhatikan proses belajar TK hingga Kuliah, pada semua prosesnya, semakin lama pengajarnya semakin pemalas, benar sekali, dan itu bukan karena mereka malas, namun karena proses belajar memang harus seperti itu menjadikan yang diajar menjadi mandiri, bisa berpikir, dan yang terpenting bisa merasakan lingkungan sekitarnya. Hingga pada akhirnya kita akan belajar di tingkat pendidikan tak-formal yang paling akhir yaitu kehidupan di masyarakat. Di tahap kehidupan bermasyarakat pengajarnya semakin aneh, bukan hanya semakin pemalas, kita bahkan tidak pernah tau siapa pengajar dan siapa yang diajar, dan tidak ada tagihan uang belajarnya.

Dengan kuliah, seharusnya mahasiswa menjadi berpandangan lebih luas, memahami ilmu yang dipelajarinya, dan seharusnya melaksanakan kewajibannya sesuai dengan janji yang diucapkannya saat wisuda. Aku yakin kuliah dimanapun, janji seorang lulusan dari perkuliahan salah satunya pasti untuk menjadikan peradaban manusia dan negaranya menjadi lebih baik dan lebih maju, dalam arti lain ia harus memiliki rasa peduli dengan sekitarnya untuk bisa mewujudkan janji itu, tidak sekedar hanya mengambil keuntungan untuk diri sendiri.

Tidak semua orang memiliki kesempatan bisa belajar sampai tahap kuliah. Sebagian orang ada yang hanya sampai SMA, SMP, SD, atau bahkan tidak sekolah formal sama sekali. Apapun alasan dibalik tidak sampai kuliah, cap ‘tidak kuliah’ bukan menjadi ukuran seberapa manusianya seseorang, tidak menutup kemungkinan ia belajar lebih banyak secara mandiri dan lebih manusiawi dari pengalaman hidup yang dijalaninya daripada orang yang kuliah sekalipun.

Ambisi masa TPB dan sekarang

Akhir-akhir ini beberapa hal yang kuinginkan dalam hidupku jarang tercapai, sepertinya alam sedang tidak berpihak. Investasiku juga terlihat mulai kacau, bahkan aku mulai berpikir sudah melakukan investasi yang salah. Hal buruk yang terjadi akhir-akhir ini adalah semangatku yang sepertinya mulai putus asa. Sebenarnya sampai saat ini aku masih berusaha mengejar ambisi yang masih terngiang di kepalaku sejak tahun pertama kuliah tpb. Ya saat itu sangat berapi-api, sempat meredup pada tahun-tahun berikutnya, dan setahun terakhir semangat itu kembali muncul hingga sekarang. Aku mungkin belum bisa tidur pulas sebelum ambisi itu terwujud.

Aku merupakan pengguna loyal sistem operasi linux, bahkan saat ini aku menggunakan mac, aku masih berpikir untuk kembali memakai linux sebagai sistem operasi utama. Rencana kedepannya, satu perangkat yang kulirik yaituuu… dell xps. Mungkin satu alasan aku mengincar perangkat tersebut aku tertarik dengan retina display seperti mac. Tapi tetap saja, menurutku berada di linux lebih leluasa dibandingkan mac.

Satu hal lain yang tertarik yang ingin kulakukan adalah menjadi seorang penulis perangkat lunak bebas (open source) fulltime. Walau saat ini aku belum punya rencana akan hidup darimana jika aku memenuhi keinginan ini, tapi aku yakin suatu saat ada peluang untuk memulai hal ini, mungkin sambil traveling mewah? atau backpacker?

Dunia ini begitu indah untuk dinikmati, Indonesia tentu saja, menjelajahlah.